Pages

October 03, 2010

SEJARAH dan KEBUDAYAAN PAPUA

Sebagai mana provinsi lain di Indonesia, Papua yang dahulu bernama Irian Jaya memiliki banyak sekali suku. Menurut Badan Statistik Papua jumlah total suku yang ada hingga saat ini mencapai 312 suku. Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya  terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadatnya maka sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu:
  1.        Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung), 
  2.       Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, Danau dan lembah serta kaki gunung. 
  3.       Penduduk daerah dataran tinggi 

         Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.Papua memiliki banyak kebudayaan. Kebudayaan  Papua merupakan salah satu provinsi yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan, karena bisa menjadi salah satu aset dan berkontribusi bagi Negara. Kebudayaan- kebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :

1.          1. AGAMA dan KEPERCAYAAN

Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana dapat dijadikan contoh bagi daerah lain, mayoritas penduduknya beragama Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke Papua, jumlah orang dengan agama lain termasuk Islam juga semakin berkembang.
Banyak misionaris yang melakukan misi keagamaan di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat, baik melalui sekolah misionaris, balai pengobatan maupun pendidikan langsung dalam bidang pertanian, pengajaran bahasa Indonesia maupun pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.

2.         2. MATA PENCAHARIAN

Pulau Papua yang luasnya kurang lebih 3,5 kali pulau Jawa secara ekologis itu terdiri atas zona - zona yang masing-masing menunjukkan diversifikasi terhadap system mata pencaharian mereka berdasarkan kebudayaan dan sebaran suku bangsa-suku bangsanya .
mata pencaharian pokok bangsa papua yaitu : menokok sagu, menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan serta berkebun beternak secara sederhana.

3. HUKUM ADAT

MASYARAKAT Papua tidak hanya memiliki keunikan di bidang sosial dan budaya, tetapi juga persoalan hukum pun sangat unik. Dari 312 suku di Papua masing-masing memiliki hukum adat tersendiri yang masih bertahan hingga kini. Hukum adat lebih dominan dalam kehidupan masyarakat karena dinilai lebih menguntungkan pihak korban daripada hukum positif.
masyarakat lebih suka menyelesaikan semua perkara secara adat daripada penyelesaian sesuai hukum positif. Padahal, hukum ini mengikat seluruh warga negara untuk menaati dan menjalankan hukum perdata maupun pidana.
hukum adat lebih menguntungkan korban atau penggugat daripada hukum pidana atau perdata. Denda berupa hewan ternak, uang, tanah, dan harta benda lain yang harus ditanggung pelaku terhadap korban, bahkan denda-denda macam itu bisa bernilai miliaran rupiah. Denda seperti itu jelas lebih berat bila dibandingkan dengan putusan di pengadilan negeri (PN).
kasus pembunuhan misalnya. Mereka selalu menyebut dalam bahasa adat, ’ganti rugi kepala manusia’ atau mengganti benda yang bernilai miliaran rupiah. Jika tidak dalam bentuk uang, diganti ternak babi sampai ratusan ekor. Apalagi menyangkut kasus asusila. Pihak pelaku harus mampu menunjukkan kepada keluarga wanita bahwa ia berani berbuat dan berani juga bertanggungjawab.
 masyarakat lebih tertarik menyelesaikan semua kasus di melalui hukum adat karena masyarakat menilai hukum adat lebih adil dan dipahami semua warga. Hukum adat sejak nenek moyang telah diterapkan di kalangan masyarakat dan mereka tahu bagaimana cara mengambil keputusan di dalam musyawarah adat itu.
Keuntungan dari tuntutan hukum adat, tidak hanya bagi korban, tetapi hampir seluruh anggota keluarga yang dekat dengan korban atau semua anggota suku itu. Karena itu, dukungan dari suku terhadap korban sangat besar, dan bila pihak pelaku tidak memenuhi tuntutan adat, akan berbuntut pada perang antara suku.Perang ini untuk membuktikan siapa yang paling benar dalam kasus tersebut. Pihak yang kalah diyakini telah melakukan kebohongan, pihak yang menang dinilai telah bertindak jujur dan adil.
Perang adat tidak brutal. Perang itu harus disepakati kedua pihak terutama menyangkut jumlah anggota suku yang terlibat perang, tempat, waktu, dan kesepakatan mengenai perempuan dan anak-anak tidak boleh dibunuh di dalam perang. Perang hanya berlangsung di zona yang telah ditetapkan bersama. Bila kedua pihak saling bertemu di tempat lain, tidak akan ada permusuhan.

4 PERKAWINAN

   pembayaran maskawin dengan benda - benda, berupa: mege [kulit bia/kulit kerang], dedege-epadau [manik-manik], pakoba-woti, maumi [kapak batu], dan dawa, kawane, [kulit kerang kecil], ditambah dengan babi Sejak terjadi kontak dunia luar mulai mengenal mata uang modern (rupiah) dan cara pemberian ongkos mas kawin sangat beragam ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah.
Penyerahan mas kawin merupakan suatu pengakuan jasa kepada ibu calon isteri yang telah melahirkan dan membesarkan anak perempuannya. Mas kawin juga dinilai sebagai alat pengikat antara suami-isteri untuk dapat hidup bersama. Mas kawin juga bersifat balas jasa terhadap sesama yang ditanggungkan sebagai mas kawin kepada ibu dari pihak calon isteri. Bila mas kawin sudah beres, pengantin perempuan pindah ke rumah suaminya, dan menjalani hidup sebagai isteri yang sah. Mas kawin menentukan sah tidaknya suatu perkawinan yang mengakibatkan adanya pengakuan oleh pihak publik.
Dengan mas kawin, ayah dari pengantin perempuan dapat melunasi mas kawin kepada isterinya. Mas kawin juga dapat berperan sebagai modal pernikahan saudara dalam keluarga atau modal untuk mengembangkan usaha orang tua. Tetapi hal-hal ini bukanlah tujuan, tetapi akibat/dampak dari mas kawin yang diterima.

5. BUDAYA TARI - TARIAN



tari perang


    Masyarakat papua memilki bebagai macam budaya tari-tarian yang biasa mereka sebut dengan istilah Yosim Pancar (YOSPAN), yang di dalamnya terdapat berbagai macam bentuk gerak seperti ; (tari gale-gale, tari balada cendrawasih, tari pacul tiga, tari seka) dan tarian sajojo dan masih banyak lagi. Lain halnya dengan tarian yang biasa dibawakan oleh masyarakat pegunungan yaitu tarian panah dan tarian perang.

     Tarian yang dibawakan oleh masyarakat pantai maupun masyarakat pegunungan pada intinya dimainkan atau diperankan dalam berbagai kesempatan yang sama seperti; dalam penyambutan tamu terhormat, dalam penyambutan para turis asing dan yang paling sering dimainkan adalah dalam upacara adat. Khususnya tarian panah biasanya dimainkan atau dibawakan oleh masyarakat pegunungan dalam acara pesta bakar batu atau yang biasa disebut dengan barapen oleh masyarakat pantai. Tarian ini dibawakan oleh para pemuda yang gagah perkasa dan berani. 

  -Tarian Kikaro dari Doyo Lama , 
bulu kepala hiasan ondoafi
dalam tarian ini jumlah bulu berwarna kuning yang disisipkan pada hiasan kepala seorang ondoafi ternyata menandakan jumlah orang yang telah tewas dalam perang suku.Diceritakan sejarahnya bahwa sekitar tahun 1700 terjadi perang suku antara suku Kitung Babatung (sekarang Waibron) dengan Kampung Doyo Lama karena memperebutkan tanah.
      Akhir dari perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh Doyo Lama setelah seorang panglima perang bernama Dopoy dari suku Ebey berhasil menewaskan seorang kepala suku dari Kitung Babatung bernama Dani juga warga sekampungnya, sementara seorang Ondoafi bernama Kamakurung dari suku Pangkatana ikut tewas.

      Dikisahkan usai perang melawan Kitung Babatung, menyusul pula perang antara Doyo Lama yang dipimpin oleh Nuguboy Kendi melawan Yagua Dotobeketo (sekarang Yahim) dan akhirnya kembali menang.Kisah ini sedikit menyimpulkan bahwa status lokasi tanah saat itu bisa diperoleh melalui perang.Jika menang maka suku tersebut bisa mendiami bahkan menggeser suku sebelumnya yang menempati.
Dalam sejarah tersebut selain ondoafi, sosok panglima perang juga sangat disegani karena semua komando perang ada padanya.Peperangan tidak hanya menggunakan alat perang tetapi tentu disisipkan ilmu kebal maupun ilmu yang bersumber dari kekuatan alam,
           
- AKOHOY
Cerita berbeda diusung Kampung Yoka dengan tarian Ahokoy.Dikatakan tidak banyak yang mengetahui cerita sejarah ini sehingga kembali diangkat bahwa terbentuknya beberapa pulau dan penduduk yang mendiami disekitar Danau Sentani adalah dari cerita ini.
       Dikisahkan berawal dari kedatangan suku Hebeibulu dari Fonom, Papua New Guinea dengan tujuan hendak ke daratan Yoka yang diantar oleh ondoafi besar yang istrinya saat itu sedang hamil besar.Saat itu dikatakan rombongan diantar Ondoafi besar bersama sang istri yang mengenakan tudung habana menutup wajahnya didampingi dua anak perempuan bernama Hay dan Hebaykoi.
Setibanya ditempat tujuan sang istri kemudian melahirkan dua anak laki-laki bernama Assa dan Kalo.Setelah cukup usia keduanya berpisah dimana Assa memilih tinggal di pulas Asei dan Kalo tetap di Yoka.Dari perjalanan hidup dua anak ini akhirnya kampung Asei disebut sebagai kampung tua. 
Asei dinamakan kampung matahari dan Yoka dinamakan kampung bulan karena saat rambut kedua pemuda tersebut dipotong, tampak bentuk matahari pada kepala Assa dan bulan pada kepala Kalo.


6. ALAT MUSIK
- TIFA

Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.


    Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.

-  PIKON
Di daerah Wamena, Musik Pikon dalam bahasa Baliem Jayawijaya disebut Pikonane yang artinya Pikon alat music dan Ane adalah Bunyi. Jadi Pikon Ane adalah jenis music yang dihasilkan oleh alat music Tiup sekaligus bertali yang kalau ditiup sambil menarik tali tersebut akan menghasilkan tiga nada dasar yaitu do, mi, Sol.Bahan yang dipakai untuk membuat alat jenis music Pikon adalah Hite atau sejenis lokop atau bambu yang beruas-ruas dan tidak berisi padat seperti jenis tumbuh-tumbuhan lain.
Musik Tradisional ini telah dikenal dan biasa ditampilkan dalam Festival Budaya Lembah Baliem Jayawijaya setiap 17 Agustus

-TRITON

Triton dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini terdapat di seluruh pantai, terutama di daerah Biak, Yapen, Waropen, Nabire, Wondama, serta kepulauan Raja Amat. Awalnya, alat ini hanya digunakan untuk sarana komunikasi atau sebagai alat panggil/ pemberi tanda. Selanjutnya, alat ini juga digunakan sebagai sarana hiburan dan alat musik tradisional


7. MAKANAN  

papeda
   Tanaman ubijalar (petatas) dan keladi (kastela) serta sagu merupakan makanan khas masyarakat pedalaman Papua dan masyarakat Papua umumnya. Papeda adalah makanan khas Papua yang terbuat dari sagu. Sebelum disajikan terlebih dahulu disaring kemudian diberi air jeruk untuk menambah kelezatan rasa dan ditambah air panas secukupnya kemudian diaduk sampai mengembang.
Sebagai pelengkap, makanan khas Papua ini diberi ikan kuah pedas dan sayur tagas-tagas yang terbuat dari campuran daun singkong, bunga pepaya, dan ubi jalar. Papeda makin lezat bila disantap selagi hangat.


8. RUMAH ADAT

   Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.

         Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai) .



sumber :

  • http://www.google.com/budaya papua
  • dinas pariwisata dan kebudayaan papua



 



No comments:

Post a Comment