Pages

May 18, 2011

Friend in need is Friend indeed

Sempat meragukan kata-kata "Friend in need is Friend indeed"  setelah ada beberapa kejadian yang saya dan beberapa teman saya alami..
tapi ketika pada suatu siang tepat seminggu yang lalu saya menonton berita tentang 2 orang anak SD yang sangat solid ,saya terharu..
jujur saya sampe meneteskan air mata..terharu dengan persahabatan mereka :')
saya sampe penasaran dan browsing tentang mereka di internet.. terharu dan terhenyak kaget mungkin..di usia mereka yang masih muda,mereka bisa membuktikan kalau mereka adalah figur contoh nyata dari slogan " Sahabat itu adalah tempat untuk berbagi suka dan Duka " . mereka yang buat saya percaya kalau di dunia ini masih ada manusia yang tulus dan tidak bermuka dua. yeah,harus saya akui,kebanyakan di lingkungan sekitar itu poker face kalo kata  Lady Gaga ,hehe

Bila melihat persahabatan dua siswi kelas 6 SDN Karaton IV yaitu Ade Sri Wahyuni dan Melayanti alias Mela. anda mungkin akan dibuat meneteskan airmata haru.Bagaimana tidak, Ade itu menderita kelumpuhan permanen semenjak dua tahun lalu, Dan selama dua tahun itu sahabat Ade yang bernama mela rela dan selalu siap siaga mengantar jemput ade.
Mereka berdua berasal dari perekonomian yang biasa sekali .. Mela rela tiap pagi menjemput Ade dan menggendong Ade untuk bersama- sama berangkat ke sekolah . Berjalan sekitar 130 meter dari rumah Ade ke sekolah, dan begitupun jika pulang kerumah, Mela menggendong Ade kembali.
Sungguh persabatan yang sangat indah dan tulus ..
saya terharu akan pengorbanan Mela , dan juga sangat sangat bangga akan ketulusannya ..
saya bangga dan iri (dalam artian positif) sama kegigihan ade dan semangatnya dia, walau dalam keadaan lumpuh,dia masih semangat untuk terus bersekolah dan mengejar cita-citanya. bahkan dia berhasil menjadi juara olimpiade matematika ..

saya selalu berdoa agar persahabatan saya bisa seperti mereka berdua ..


ini foto Ade dan Mela yang ada di Internet..
saya masih berusaha buat mencari videonya :D


ini kutipan berita tentang merka yang saya dapat dari sumber (http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=65385 )

Pagi itu mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya yang panas. Sementara di Jalan Kampung Ciekek Pabuaran, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, tampak dua siswi SD berangkat ke sekolah.
Dua siswi ini mengenakan seragam SD yaitu kemeja putih dengan rok panjang merah plus kerudung putih. Se­nyum ceria khas anak-anak juga meng­hiasi wajah dua siswi itu menan­dakan semangat belajar yang tinggi.
Namun bila Anda yang kebetulan melewati jalan kampung yang letaknya hanya satu kilometer dari pusat pemerintahan Pandeglang itu mau mencermati, perilaku dua siswi SD itu saat berangkat sekolah, terlihat berbeda dari siswi lain lantaran salah satu siswi terlihat menggendong siswi lainnya. Tapi hal itu bukan disengaja apalagi dilakukan dengan maksud bercanda karena siswi yang digendong ternyata menderita lumpuh.
Siswi yang menderita lumpuh itu bernama Ade Sri Wahyuni (12), sementara temannya yang setia menggendong bernama Melayanti alias Mela. Keduanya adalah siswi SDN Karaton IV. Pagi itu keduanya sudah bersiap sejak subuh menjelang lantaran kemarin merupakan hari kedua ujian nasional (UN) tingkat SD dengan mata pelajaran yang diujikan matematika.
Begitu sampai di sekolah, keduanya langsung menempati bangku di kelas dan mengikuti UN dengan serius. Di sela-sela UN, salah seorang guru SDN Karaton IV Tati Fatmawati kepada wartawan menuturkan, kendati lumpuh, Ade adalah siswi yang memiliki prestasi tinggi karena pernah menyabet juara III dalam ajang Olimpiade MIPA tingkat Provinsi Banten tahun 2010.
Putri pasangan suami istri kurang mampu Sayuti (48) dan Sutihat (42) itu tinggal di Kampung Ciekek Pabuaran, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari. Walau kakinya lumpuh, Ade, kata Tati tidak terlihat minder. Laksana anak-anak lain, Ade ceria bahkan sesekali bersenandung saat kumandang bel istirahat dibunyikan. Ya, Ade memang senang menyanyi bahkan katanya bercita-cita ingin menjadi penyanyi terkenal.
“Makanya dari 22 orang murid saya di kelas VI Ade dikenal sebagai orang yang selalu terlihat ceria, dan hampir tidak pernah mengeluh. Ia juga pintar, setiap kenaikan kelas rangkingnya nggak pernah anjlok dari tiga besar. Dan ia juga menonjol dalam mata pelajaran matematika, walaupun dalam mata pelajaran lain juga unggul,” kata guru Tati.
Walaupun begitu, Tati mengakui ada sejumlah hambatan yang dialami Ade ketika berada di sekolah misalnya saat hendak ke WC, sehingga siswi berkulit hitam manis itu membutuhkan bantuan teman-temannya atau guru. “Tapi di antara semua temannya yang paling setia itu ya Melayanti, yang selalu menggendong Ade saat berangkat atau pulang sekolah kalau Ade tidak diantar atau dijemput kakaknya,” imbuh guru Tati.
Hal senada dikatakan Kepala SDN Karaton IV Rohimah, pihak sekolah berharap Ade bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena walau memiliki kekurangan fisik namun otaknya encer alias pintar. Ia juga berharap ada pihak-pihak terkait yang bisa membantu biaya sekolah Ade karena Ade berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu lantaran ayah Ade yaitu Sayuti hanya berprofesi sebagai buruh. “Karena semangat belajarnya tinggi dan semangatnya kuat saya yakin ia lulus UN tahun ini,” katanya sambil menambahkan jumlah peserta UN di sekolahnya tahun ini sebanyak 22 orang.
Ditemui terpisah, ibunda Ade, Sutihat bercerita, kaki anaknya lumpuh saat usianya 10 tahun atau saat kelas 4 SD. Sebelum lumpuh, kaki anaknya kerap kesemutan dan kaku-kaku sehingga Ade kerap jatuh dan akhirnya lumpuh. “Karena bapaknya nggak punya uang akhirnya Ade nggak bisa diobati dengan baik,” tukas Sutihat dalam bahasa Indonesia berlogat Sunda.
Ade sendiri mengaku, walau lumpuh ia tetap bersemangat karena ingin membahagiakan orangtua. Ia berharap kelak mendapatkan pekerjaan yang bagus. “Saya tidak mau ibu dan bapak sedih, makanya saya harus tetap sekolah,” tandas Ade.
Sementara Melayanti mengaku tetap mendukung temannya dan rela menggendong Ade karena ia menyayangi temannya itu. Tak heran ia rela mendatangi rumah Ade yang jaraknya 200 meter dari rumahnya dan ke­mudian menggendong sampai ke sekolah. Selain Melayanti, ada satu siswi lainnya yang akrab dan kerap membantu memba­wakan tas Ade yaitu Dina Mauludi.

*catatan ini saya buat untuk renungan saya dan sebagai ucapan terima kasih kepada sahabat- sahabat saya yang selalu ada buat saya ..

No comments:

Post a Comment